Untukmu, inspirasi
dari setiap lahirnya kata-kataku.
Untukmu, yang detail
wajahnya selalu ada untuk kuingat. walau aku pelupa yang cukup akut.
Menulis sajak memang tidak mudah, namun kau membuatnya
mengalir begitu saja. Tanpa henti, tanpa jeda. Jika tanganku ini kereta, sepertinya
tidak ada satu stasiun pun yang sanggup memberhentikanku. Membiarkanku melaju
kencang menuju tujuan utamaku. Kamu, dalam sajakku.
Pengecut, memang. Tak pernah berani mengungkapkan perasaan tapi
dengan lancang menceritakan setiap detailmu dalam tulisanku. Tak berani
mengurai air mata dihadapanmu, tapi membunuhmu mati-matian dalam kisah yang
kutulis. Apalagi yang bisa kulakukan? Aku seorang penulis. bukan broadcasting atau
presenter sebuah acara bertemakan isi hati. Atau bahkan, aku bukan pelukis yang
bisa menceritakan anatomi wajahmu lewat sketsa wajah lengkap dengan arsiran dan
sebuah gradasi.
Tidak perlu meruncingkan atau menumpulkan pensil grafitku
untuk menunjukkan lekuk wajahmu, tidak perlu kanvas untuk menuangkan tentang
kamu dalam pikiranku. Karena kamu lebih dari sekedar sketsa wajah hitam putih
di selembar kanvas. Karena kamu, seharusnya nyata. Tiga bahkan empat dimensi.
Satu saja pertanyaanku. Jika pelukis bisa merealisasikan keindahan lewat lukisannya,
apa aku dosa jika mengungkapkan isi hati lewat aksara?
Tuanku, Aku memujamu dengan caraku. Tolong jangan kau ganggu.





