RSS

Halaman

bedakan aku dengan pelukis


Untukmu, inspirasi dari setiap lahirnya kata-kataku.
Untukmu, yang detail wajahnya selalu ada untuk kuingat. walau aku pelupa yang cukup akut.
Menulis sajak memang tidak mudah, namun kau membuatnya mengalir begitu saja. Tanpa henti, tanpa jeda. Jika tanganku ini kereta, sepertinya tidak ada satu stasiun pun yang sanggup memberhentikanku. Membiarkanku melaju kencang menuju tujuan utamaku. Kamu, dalam sajakku.
Pengecut, memang. Tak pernah berani mengungkapkan perasaan tapi dengan lancang menceritakan setiap detailmu dalam tulisanku. Tak berani mengurai air mata dihadapanmu, tapi membunuhmu mati-matian dalam kisah yang kutulis. Apalagi yang bisa kulakukan? Aku seorang penulis. bukan broadcasting atau presenter sebuah acara bertemakan isi hati. Atau bahkan, aku bukan pelukis yang bisa menceritakan anatomi wajahmu lewat sketsa wajah lengkap dengan arsiran dan sebuah gradasi.
Tidak perlu meruncingkan atau menumpulkan pensil grafitku untuk menunjukkan lekuk wajahmu, tidak perlu kanvas untuk menuangkan tentang kamu dalam pikiranku. Karena kamu lebih dari sekedar sketsa wajah hitam putih di selembar kanvas. Karena kamu, seharusnya nyata. Tiga bahkan empat dimensi.
Satu saja pertanyaanku. Jika pelukis bisa merealisasikan keindahan lewat lukisannya, apa aku dosa jika mengungkapkan isi hati lewat aksara?
Tuanku, Aku memujamu dengan caraku. Tolong jangan kau ganggu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS