RSS

Halaman

cembung cekung

Ini bukan sebuah jeritan ataupun suatu derita. Yang aku rasakan ini adalah suatu rantaian air mata yang belum sempat kuungkap. Bukan belum sempat, tapi aku belum mengibarkan bendera merahku. Aku tidak tau arah apa yang akan kutuju. Jarum apa yang aku gunakan untuk mengarahkanku? Karena kurasa tujuan hidupku sudah sirna. Terhapus oleh sketsa sketsa yang membentur dengan sebuah pola yang ku tuliskan. Kadang aku memang menginginkan tak seorang pun mengerti diriku. Membiarkanku dalam kegalauan tak berujung sekalipun. Membiarkanku mendengar kebisingan total agar gendang telinga ini hancur. Sehingga tak perlu lagi mendengar sketsa nyata yang mendeskripsikan bahwa aku jauh dari lubang hidupnya.
             Dia cembung. Aku cekung. Bahkan untuk mencapai kata normal saja aku tak mampu. Apalagi aku akan merubah diriku menjadi cembung dirinya?mengapa engkau selalu menjadi panorama terelok yang pernah ditanggap oleh korneaku, wahai cucu adam ? mengapa kesahajaanmu selalu saja menarik otak kananku untuk merekam semua tingkah polamu? Mengapa segalanya tak pernah sanggup kuhapuskan? Ya, satu jawaban. Karena aku belum mendapatkan sebuah dekapan sempurna. Karena kau memberikan dekapan sempurna itu kepada orang lain. Kepada dua bidadarimu. Yang membuat aku semakin jauh mengecil. Layaknya sebuah atom yang hanya dapat dilihat oleh lensa mikroskop.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS