Ini bukan
sebuah jeritan ataupun suatu derita. Yang aku
rasakan ini adalah suatu rantaian air mata yang belum sempat kuungkap. Bukan belum
sempat, tapi aku belum mengibarkan bendera merahku. Aku tidak
tau arah apa yang akan kutuju. Jarum apa
yang aku gunakan untuk mengarahkanku? Karena
kurasa tujuan hidupku sudah sirna . Terhapus
oleh sketsa sketsa yang membentur dengan sebuah pola yang ku tuliskan . Kadang aku
memang menginginkan tak seorang pun mengerti diriku. Membiarkanku dalam
kegalauan tak berujung sekalipun. Membiarkanku
mendengar kebisingan total agar gendang telinga ini hancur. Sehingga tak perlu
lagi mendengar sketsa nyata yang mendeskripsikan bahwa aku jauh dari lubang
hidupnya.
Dia cembung. Aku cekung. Bahkan untuk
mencapai kata normal saja aku tak mampu. Apalagi aku akan merubah diriku
menjadi cembung dirinya?mengapa
engkau selalu menjadi panorama terelok yang pernah ditanggap oleh korneaku,
wahai cucu adam ? mengapa
kesahajaanmu selalu saja menarik otak kananku untuk merekam semua tingkah
polamu? Mengapa
segalanya tak pernah sanggup kuhapuskan? Ya, satu
jawaban. Karena aku belum mendapatkan sebuah dekapan sempurna. Karena kau
memberikan dekapan sempurna itu kepada orang lain. Kepada dua
bidadarimu. Yang membuat
aku semakin jauh mengecil. Layaknya sebuah atom yang hanya dapat dilihat oleh
lensa mikroskop.
Dia cembung. Aku cekung.





