RSS

Halaman

malaikat tanpa sayap

Aku menanti datangnya pelangi setelah hujan, berharap hadirnya tujuh warna disana sanggup menemukan senyumku. Melupakan hancurnya hatiku sejenak, atas kau yang pergi tanpa persetujuan dariku.
Asap yang tadinya bergemul diatas kopiku kini sudah tak terlihat, kopi di cangkirku sudah kusesap setengah, dan mataku sudah membaca angka dua ratus sekian pada lembar buku yang kubaca sejak tadi. Tapi tak ada tanda-tanda senyum simpulmu akan melewati pintu masuk berjarak 50 meter dariku ini. Dimana lagi aku harus menanti kehadiranmu? Harus kemana lagi aku mencari keadilan untuk hatiku yang semakin sesak akan rindumu?
Sebaiknya aku pergi. Mencari beberapa tempat lain yang mungkin akan mempertemukanku denganmu. Aku ikuti saja langkah kakiku. Toh, aku masih percaya pepatah zaman dahulu. "Kalau jodoh tidak akan lari kemana". Maka dengan berpegang teguh pada pepatah diatas, tak akan kubiarkan jodohku untuk lari.
Lamunanku terhanyut pada memori beberapa hari silam. Saat kita berada di stasiun kereta api, tempat yang kebetulan sekarang sedang kupijak. Beberapa hari yang lalu, aku bersamamu, disini, menantikan kereta kita menuju Jogjakarta. Aku duduk di bangku tunggu, berperang dengan cuaca dingin akibat tetesan ratusan ribu air hujan yang baru saja mengguyur kita. Kantuk sudah mulai menjalari mataku. Kupandang kau yang sedang asyik memainkan asap rokok tanpa menghiraukan kicauanku sedari dulu bahwa aku membenci benda yang ada di antara selipan jarimu itu. Melihatmu, membuat kehangatan menjalari tubuhku seketika. Kau terlihat gagah dengan jaket jeans barumu yang baru beberapa minggu lalu kita beli bersama.  Warna biru jeans pilihanku, dan abu-abu pilihanmu. Lagi dan lagi kau membeli sesuai dengan permintaanku. Ah, itu hanya contoh kecilmu untuk membahagiakanku. Kau selalu punya seribu cara untuk menaklukan hatiku dan bangga memilikimu.
Tapi nyatanya, kebahagian memang selalu tak pernah kekal adanya.
Kupandang lagi dirimu sebelum aku benar-benar terhanyut dalam tidurku. Sekarang kau tidak lagi memainkan rokok diselipan jarimu. Matamu mengekori seorang gadis. Gadia belia bermuka pucat itu sedang berjalan lunglai dengan tampang putus asa tepat di tengah rel kereta api tak jauh dari kita. Semua orang biasa saja melihatnya, termasuk aku. Tapi entah kenapa kau melihatnya dengan tatapan yang sulit kujelaskan. Aku tak mau ambil pusing. Kubiarkan saja kau memandanginya sedangkan aku lebih memilih untuk membaringkan kepalaku ditempat bersandar serta hanyut dalam mimpiku.
Entah berapa menit kemudian, kudengar suara laju kereta yang semakin mendekat. Aku terpaksa membuka mataku walau enggan karena kantuk masih merajai jaringan otakku. Sedetik kemudian aku merasakan kau melesat dan berlari menuju gadis itu. Entah untuk apa. Wajahmu panik dan begitu juga orang di sekitar kita. aku berteriak memanggilmu walaupun aku masih belum sepenuhnya sadar dari mimpiku dan tentunya aku belum sepenuhnya membaca kejadian apa yang ada dihadapanku. Tapi, aku melihat sebuah kereta yang berlari kearahmu. Entah ini apa. Aku bingung dan semakin bingung.
Sedetik atau dua detik kemudian, samar-samar kulihat kau menggendong paksa dan melempar si gadis pucat keluar dari rel. Dan sedetiknya lagi, aku kehilangan jejakmu. Kau sudah tak tampak oleh kornea mataku. Hanya kereta besar yang tiba-tiba membuatmu menghilang dan masih melaju dengan kecepatan yang sedikit diperlambat. Tahukah kau? Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan bahkan aku tidak mau tahu.
Kudengar beberapa pekikan atau bahkan jeritan, tapi mulutku tetap tak sanggup mengeluarkan suara. Hatiku hanya bertanya dimana kamu yang baru saja kulihat sedang menyelamatkan nyawa seorang wanita? Dimana kamu yang baru saja duduk disampingku dan mengelus kepalaku selagi aku tertidur? Dimana kamu yang satu jam yang lalu menyuapkan beberapa butir obat kepadaku agar jaringan sel kanker stadium akhir ini tak mengganggu perjalanan kita?
Seketika semua orang berkerumun didepan monster besar yang melaju cepat tadi. Kudapati si gadis putus asa tadi menangis meronta-ronta diujung sana. Tapi aku tak melihatmu. Kuberanikan diriku untuk mendekati kerumunan itu tapi tetap tak menemukan sosokmu. Hanya terlihat sepotong kain jeans berwarna biru yang sobek dan berganti warna. Orang-orang ini menarikku agar tak mendekati kain itu. Aku menjerit, meronta, menggila. Berusaha berontak agar aku bisa meraih kain jeans biru yang dulu kufavoritkan. Tapi jeritanku justru membuat jiwaku terlempar dan memusnahkan kesadaranku.
Sekarang aku tidak akan menjelaskan apa yang terjadi. Mungkin semua orang sudah mengerti judul dari semua ini. Aku kehilanganmu. Dan ya, kau meninggalkanku tanpa permisi.
Air mataku menitik. Membuyarkan lamunanku. Entah sudah berapa lama aku terduduk dalam raut mengibakan seperti ini. Lalu kubuka tas merahku, tas yang sama dari yang kupakai saat terakhir bersamamu. Ada secarik kertas disana, kuraih dan kubaca tulisan tangan yang sudah sangat kuhafal siapa penulisnya.
"Aku pergi bukan karena aku ingin meninggalkanmu. Maafkan aku, tapi inilah caraku agar aku bisa mempersiapkan dunia baru yang akan kau tuju. Akan akan menyambutmu disini lebih dulu. Karena aku munafik, aku tak pernah berani membayangkan pahitnya ditinggal oleh kamu."
Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Dia meninggalkanku karena aku. Bukan hanya karena membantu gadis putus asa di stasiun kemarin. Ternyata Tuhan masih mencintaiku dengan membiarkanku pergi dengan bahagia. Dulunya aku takut akan kematian. Aku takut meninggalkan kekasihku yang sudah beribu hari membantu perjuanganku untuk tetap hidup, walau vonis kematian memang sudah benar-benar tinggal menghitung waktu.
Sekarang barulah aku tahu, jodoh yang tadi akan kukejar sudah kudapatkan. Tuhan memberiku malaikat berparas manusia yang tak hanya menemaniku di dunia, tapi juga mempersiapkan kamar tidur baruku di alam yang sebentar lagi akan kudatangi.
Iya, malaikatku. Malaikat tanpa sayap.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

teori dan basa basi.



Jelaskan padaku mengapa semua terjadi begitu cepat? Aku melihatmu, mengenalmu, lalu memujamu. Sesederhana itu mengawali kisah ini. Aku tidak perlu banyak teori bagaimana aku mentolerir perbedaan yang terjadi antara kita. Tiba-tiba saja kamu menjelma menjadi segalanya. Pengisi, pendingin, bahkan peroboh hatiku yang sudah beku.
Ak menyalahkanmu dalam hal ini. Karena mungkin semua orang akan merutuki dirinya sendiri bagaimana bisa menjadi begitu cepat terhanyut dalam pesonamu. Keluguan yang tak pernah kau buat-buat, dan ketulusan yang mengalir begitu saja.
Iya, sesederhana itu caramu menebar pesona.
Terlalu buruk jika aku berharap kisah ini hanya seperti kemasan kisah cinta di Fairytale. Kisah cinta anggun yang penuh teori, namun tak mengecap pahitnya perjuangan. Melihatmu berjuang untuk berada disampingku, mendengarmu meneteskan keringat untuk membahagiakanku, dan merasakan hadirmu disaat jenuh membunuhku. Kupercaya tak akan ada yang lebih anggun dari itu.
Ketahuilah, Tuan. Kamu-lah pemilik kisah terindah di garis buku hidupku.

Untuk anda, pemilik rasa rindu yang belum pernah sanggup kuhentikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS