RSS

Halaman

.

Pada akhirnya...
Aku melihatnya dalam mimpiku, mendapatkannya dalam doaku, menemukannya dalam takdirku.
Bagiku, dirinya seperti panah yang mendarat sempurna dalam lingkaran takdir yang baru saja kumengerti. menunjukkanku bagaimana luasnya arti masa depan yang selama ini masih buram dalam korneaku.
Bahkan bagiku, dia seperti strategi yang tak bisa kuberi kendali. dia datang dalam suatu hari, dan akan membawaku suatu hari nanti.

-01.33 // 29022015-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

saat takdir memaksaku, lagi.

Dulu, takdir berbicara seperti ini terhadapku;
"akan kuhadapkan kau dengan pilihan sulit, kutunjukkan kau kenyataan yang pahit, kuberi kau sesuatu yang kau takutkan. Akan aku goncang jiwamu, kupaksa kau melihat ketidak adilan, kubawa kau menuju sesuatu yang begitu gelap, dan akan kuseret dirimu menuju jalanan sepi yang tak akan kau mengerti kemana tujuannya."
Takdir pun memenuhi janjinya sekarang.
Sekali lagi, Penciptaku sedang menguji kemampuanku. tak peduli seberapa keras bahuku terguncang dan seberapa hebat dunia menertawakanku, Dia tetap ingin melihat bagaimana makhluk kecilnya bangkit walaupun dengan tertatih. Dia bilang, dunia baruku akan menungguku. mau ataupun tidak, siap ataupun tak siap.
Aku tau ini bukan akhir dari segalanya. ini hanya cerita untuk masa tua. sesuatu akan datang kepadaku dengan kebaikan yang berganda. karena Allah-ku sudah menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekedar baik untukku sebentar lagi. Tunggu saja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

👧

Karena segala yang kita sayang pada akhirnya akan hilang, entah itu di ambil Tuhan atau diambil orang. Belajarlah untuk memaknai keberadaannya dengan penuh syukur. Jangan terlalu genggam erat, agar tidak berkarat. Jangan terlalu beri bebas, agar tidak lepas.
Cukup dijaga dan dipeluk baik-baik sampai pada saatnya nanti titipan itu pergi. Entah itu karena diambil Tuhan, atau diambil orang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuhan atau hamba?

Aku lelah dengan kebisingan ini. Sepercik air mata telah kuteteskan dalam kepedihan. Namun aku salah, kukira aku akan bahagia dengan membawa nama Tuhan dalam cinta kita. Katakan padaku mengapa kau menyerupai Tuhan dan masuk dalam keyakinanku serta menjatuhkan diriku dari tahta kerajaan harga diri yang kubangun megah dan tinggi dengan kesombonganku bahwa aku adalah raja yang memimpin budak-budak kepedihan yang menderita.
Aku salah dan begitu salah. Cinta ini hanya menyerupai seekor serigala yang tak pernah mengumbar senyum kepada mangsanya. Tapi kuhargai itu, aku tak perlu kemunafikan dalam cinta. Bawa aku pergi dari kepedihan yang kurasa aku tak peduli kau Tuhan atau hamba. Yang ku tahu, kau hanya bagian dari deru nafasku dan keseimbangan yang membuatku tetap berdiri dari guncangan kejam zaman yang menyiksaku.

written by: Malaikat dekat | thousand days ago. 22.10 WIB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ramadhan, malam ke dua puluh dua.

Tengah malam. Tepat pukul 11.40.

Aku kembali berbasa basi dengan malam karena kebanyakan kopi. Ditemani suara cantik cascada yang mungkin sudah hampir ke dua puluh kalinya kuputar ulang. Belum pernah kuhitung sejak berapa lama aku melakukan ritual seperti ini. Memecahkan hening tanpamu, menimbun luka tanpa ada yang tahu.
Aneh memang. Tapi entah bagaimana, dalam kesepianku aku semakin menemukanmu. Kau menjadi asing bahkan saat aku mendalami matamu terlalu lama. Sepertinya aku sudah kehilanganmu bahkan sebelum kau beranjak pergi.
Dan dalam keberantakan ini, kuputuskan, mungkin kita akan berubah menjadi kau dan aku. Entah karena hati yang koyak, atau cinta yang sudah rusak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wanita dalam senjamu







“When there is love, you can live even without happiness.” - Dostoevsky, Notes From Underground ( 9 Summer 10 Autumn ) –
Aku sungguh benci padamu. Sejak kau hadir kau selalu menuntun langkah serong hatiku. Kau basuh dahaga jiwaku dengan senyum sisimu. Kau sinari gelap nafasku dengan aroma suci jiwamu. Kau datang tanpa permisi, merongsok paksa dan meruntuhkan tahta hatiku hanya dengan kesederhanaanmu.. Aku tak percaya, kau memainkan alunan puisi sehingga aku tak sadarkan apapun lagi. Namun seketika kau merubah wujudmu. Entah bagaimana kau pergi tanpa menoleh sekalipun. Apakah kau mengirimkan puisimu kepada ratusan kaum hawa? Lalu mengapa aku tetap mengira bahwa kau berbeda? Mengapa kau selalu pergi dan kembali dengan syair yang tak pernah bisa ku tolak?
Aku benci. Sungguh aku benci padamu.

Semuanya berawal hari Rabu bulan lalu. Saat aku memandang keindahan cakrawala di negeriku sendiri, Pandawa beach. Pantai mungil yang belum banyak dinikmati wisatawan ini cukup memanjakan bola mataku sedari tadi. Menggiring korneaku untuk menulusuri ombak-ombak kecil hingga lenyap terhapus angin. Hingga kemudian, kamu membangunkan lamunanku.
“Excuse me, boleh minta tolong fotokan saya?”
Seketika, keindahan ombak yang baru saja kukagumi mendadak lenyap, terganti oleh senyum anak adam di sebelahku. Kamu.Disusul beberapa detik kemudian, akal sehatku mulai kembali menguasai medan. Kuturuti permintaanmu, disusul kemudian ucapan terima kasih dan lemparan senyummu. Senyum itu lagi.
“Pecinta laut? Isn’t you?” Katamu, sambil menyiapkan posisi untuk duduk tepat disebelahku.
“Bagaimana anda tau?” Sergahku, mungkin sedikit kurang nyaman dengan sikapmu yang sok kenal.
“Terlihat dari bagaimana caramu menghajar habis-habisan laut itu dengan bola matamu. Kamu terpatung hingga tak sadar aku sudah mengambil belasan foto dirimu, dan waw.. kamu hampir tak bergerak.”
Apa-apaan lelaki ini. dia mengambil foto diriku tanpa meminta izin dariku?
“Maaf, untuk apa anda...”
“Okay. Pertama-tama maaf karena aku mengambil foto ini tanpa izin darimu. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa, hanya iseng. Dan kedua, maaf karena menganggu konsentrasimu memandang laut. By the way, Vicky.” Kubiarkan tangan ini menggantung di udara sejenak, lalu kuraih dengan ogah-ogahan.
“Akira.” Jawabku singkat. Berharap kamu pergi dan tak lagi mengangguku menikmati panorama pantai ini.
“Asli sini, turis, atau ada urusan bisnis?”
Sepertinya aku mulai enggan dengan pembicaraan mendetail seperti ini. Serasa diintimidasi.
“Traveling aja, mumpung ada waktu luang.”
Kamu tersenyum sekali lagi, seperti hendak mengambil ancang-ancang untuk bangkit dari tempat duduknya.
“Okay, Akira. Maaf jika aku menganggu. Hari sudah hampir senja, jalanan menuju arah kota sangat panjang dan berliku. Dan pastinya tidak ada lampu jalan karena ini merupakan daerah terpencil. Hati-hati, Akira. Bahaya cewek jalan sendirian. Mau bareng?”
“Terima kasih, saya bisa pulang sendiri. Duluan aja.” Sepertinya pria ini berlagak manis di depanku. Ah, dasar lelaki.
Kamu berpamitan dan meneruskan langkahmu. Sedangkan aku masih berdiam di tempatku duduk, melanjutkan lamunan dan khayalan kecil yang sedari tadi kubuat sebelum terputus oleh kehadiranmu.
Siapa tadi namanya, Vicky. Iya iya, Vicky. Sounds good.
Sepertinya aku harus meninggalkan pantai ini dan kembali ke villa sebelum gelap menghadangku di tengah jalan. Benar katamu, untuk sampai pada pantai Pandawa ini aku harus melewati sebuah desa. Kalau tidak salah dengar, orang menyebutnya desa Kutuh. Desa Kutuh ini memang masih sangat terpencil dan jauh dari jangkauan pemerintah.Memang tak begitu banyak wisatawan yang mau bersusah payah membelah bukit kapur untuk menikmati panorama pantai disini. Mereka lebih memilih memanjakan diri di pantai-pantai Nusa Dua atau bahkan Kuta yang sudah tumpah ruah oleh wisatawan domestik atau bahkan mancanegara.

20.11 WITA
Aku sudah sampai pada tujuanku. Hotel minimalis yang terletak di daerah Nusa Dua ini terlihat cukup mewah bagiku. Padahal sebelumnya aku sudah berbicara kepada Papa agar tak ikut campur dalam liburanku kali ini. Aku tidak terlalu menyukai kemewahan, lebih baik aku tidur di Guest House biasa tapi aku bisa bebas pergi kemanapun dan pulang jam berapapun aku mau. Tidak seperti sekarang. Papa hanya akan mengizinkanku pergi jika aku mau menginap di milik mantan rekan kerja sekaligus sahabat baik beliau yang kebetulan memiliki saham di hotel yang sedang kuinapi ini.
“Setidaknya, akan ada yang mengawasimu sehingga uban di rambut Papa tak perlu bertambah banyak karena terus menerus mengkhawatirkanmu.” Begitulah katanya.
Hotel Grand Whiz ini cukup indah walau harganya tergolong standart jika dibandingkan dengan hotel berbintang lainnya di Bali. Hotel ini menyediakan akses langsung ke pantai di Nusa Dua yang berjarak hanya 3 menit jalan kaki dari hotel. Setidaknya inilah nilai plus yang menjadi pertimbanganku saat Papa menawarkan hotel ini padaku.
Tak lama kemudian bel kamarku berbunyi.
“Selamat malam Miss Akira, ada yang menunggu anda di lobi utama.” Kata pemuda ini santun. Setelah aku berterima kasih, ia berpamit dan pergi dengan secangkir kopi yang sudah habis setelah kupesan tadi sore.

Aku sudah sampai di lobi utama. Tak ada tanda-tanda orang yang kukenal sedang menungguku. Apakah pemuda itu berbohong? Tapi untuk apa?
“Hai, Akira.” Sambut seseorang dari balik punggungku.
“Eh, Anda? Vicky? Untuk apa anda kemari?” Sergahku terkaget. Untuk apa pria ini ada disini?
“Masih ingat kamu rupanya. Maaf waktu itu aku ikutin kamu, jadi aku tau kalau kamu tinggal di hotel ini.”
Belum sempat aku menjawab, kamu melanjutkan penjelasannya. “Aku melihat kamu di pantai seorang diri, sepertinya kamu bukan sedang ikut tour atau sejenisnya. Dan boleh saya menebak? Kamu tidak mengenal siapapun disini. Am I right?”
“Iya, lalu apa hubungannya dengan kehadiran anda kemari?”
“Sepertinya kita senasib. Sama-sama holiday tapi tak memiliki teman disini. Hanya ingin berteman, dan mungkin kita bisa sharing pengetahuan tentang pantai. Aku juga pecinta laut. Keberatan?”
Aku terperangah mendengar jawabanmu. Sepertinya kamu benar-benar tipe yang tak suka basa basi. Sedikit ragu memang, tapi tak ada tampang horor dalam tampangmu. Wajahmu cukup rupawan, dihiasi mata coklat dan bulu mata lentik yang hampir menandingi bulu mata palsu milik wanita-wanita metropolitan.
“Oh, Okay. Nggak keberatan. Tapi kenapa harus aku?” Entah kenapa jawaban ini muncul begitu saja.
“Well, thank you. Kamu sudah tau jawabannya, karena kita sama-sama pengagum pantai, laut, dan ombak.” Ia tersenyum tulus. “Mau dinner sekarang? Aku yang traktir deh. Anggep aja hadiah perkenalan.”
Aku ragu untuk menjawab. Apa laki-laki ini benar-benar baik?
“Ayolah, jangan menolakku. Aku sudah datang dari jauh dan capek-capek kesini. Kan tadi kamu..”
“iya iya iya. Kita berangkat sekarang?”

Rabu, Oktober 2013.
Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuanku denganmu malam itu, kehadiranmu semakin mengusik hati dan pikiranku. Aku begitu memuja kesederhanaanmu dan kejeniusanmu. Seolah semua sudah tertata rapi dalam kotak kemaskulinan. Semuanya semakin membuatku begitu memaknai setiap jengkal hadirmu, menuntutmu untuk tetap disini. Dan ya, membalas cintaku.
Sejauh ini, memang tak pernah ada tanda-tanda bahwa kau memiliki perasaan yang lebih terhadapku. Kamu tak pernah menggandeng tanganku. Perhatianmu hanya sebatas memandangku dalam-dalam saat aku aku terlarut dalam cerita yang menggebu. Mungkin sesekali saja kamu menyentuh siku-ku saat kita hendak menyeberang. Seperti memberi isyarat ‘tetaplah denganku.’
Entah kenapa jika sedang berada dalam posisi jauh seperti ini, aku merasa sangat merindukanmu. Aku begitu merindukan saat kau menunjukkan hasil jepretanmu kepadaku. Bulan purnama. Sesuatu yang belum pernah kukagumi sedemikian detail. Kau mengajarkanku cara melihat bulan dalam lensamu, memandang bulan dalam sisi lain. Mencintai bulan dalam Eingengrau.
Masih 15 menit lagi, pikirku. Sebentar lagi kau akan menjemputku dan kembali melanjutkan traveling kita menuju pantai pantai Uluwatu. Kita sudah mengunjungi beberapa pantai bersama. Seperti pantai Lovina, Suluban, Uluwatu, Tanjung benoa, Padang-Padang, Green Bowl, Nusa Dua, dan Padma. Pengetahuanmu tentang pantai dan lokasi di bali memang tidak bisa kuragukan lagi. Tapi kau bilang, Padang-Padang dan Uluwatu-lah yang mencuri hatimu. Kamu menemukan kesunyian disana, satu keadaan yang bisa membuat kita melihat Eingengrau di malam hari. Kegelapan total. Sesuatu yang kau sebut dengan semedi singkat untuk menghargai betapa pentingnya terang.
Belku sudah berbunyi, kuraih ransel dan D5100 yang sudah full battery karena aku sudah mengerti siapa di balik pintuku saat ini.
“Hai, sudah siap, Ra?” sambutmu. Masih dengan senyum setengah sisi yang mirip seperti ratusan foto bulan tsabit yang selalu kau ambil dalam kamera kesayanganmu.
“Siap dong, makan dulu yuk? Aku belum makan dari pagi.” Sergahku. Disusul dengan anggukan dan gamitan tanganmu.
Kupandang jemari yang sedang merapat diantara jemari-jemariku yang lain. Dan aku tahu, aku siap untuk bersamamu selama mungkin.

17.56 WITA
Kita sudah berada di lokasi pantai Uluwatu. Seperti kedatangan kita sebelumnya, pantai ini masih menjadi salah satu pantai tersunyi dan pantai yang paling kita kagumi. Tak banyak yang berbeda memang, tapi ombak yang menghantam kaki tebing inilah yang menarik bagiku. Aku memang bukan pecinta surfing, tapi gelombang yang dihasilkan dari deru ombak selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Dan disinilah aku menemukannya.
Kamu masih asyik dengan kameramu di jarak yang cukup jauh denganku. Dan aku, tak usah kau tanya. Aku lebih memilih memanfaatkan waktu untuk menyaksikan luasnya hamparan samudera Hindia dan memandang matahari yang sudah separuh terbenam tepat di depan kornea mataku. Membiarkan lamunanku terhanyut dalam cahaya dan gelombang yang sibuk menyatu di sana.
Kulihat kamu berjalan ke arahku dengan raut muka datar yang sulit kumengerti. Tatapan cemas kah itu?
“Ada apa?” tanyaku. Sedikit khawatir dengan air mukanya yang tak pernah seperti ini.
“Besok udah tanggal dua, dan aku harus kembali ke Jakarta. Aku tak bisa lebih lama lagi disini bersamamu, Ra. Ada yang menungguku disana.”
“Iya aku inget. Waktu di villa-mu kan kamu udah cerita. Emang siapa yang menunggu, Vi? Klien?”
Kamu diam sejenak, memandang matahari yang tadi kulihat dan kemudian memandangku dalam-dalam.
“Aku akan menikah sepuluh hari lagi, Ra. Maaf aku nggak cerita dari awal kalau aku sudah memiliki wanita. Tujuanku ke Bali ini untuk melepas masa kesendirianku dan bersiap membuka lembaran baru. Sorry aku baru bisa ngomong sekarang.”
Mendadak semuanya serasa terhenti. Entah apakah ini termasuk detak jantungku atau tidak. Senja masih terlihat merah, namun kornea mataku sudah menganggap semuanya menjadi Eingengrau. Hitam pekat.
Kuperbaiki letak dudukku, berharap sedikit gerakan tubuh dapat membuat semuanya berubah. Membuatnya mencabut perkatannya barusan.
“Aku salah, Ra. Seharusnya aku tidak membuntutimu sampai ke hotelmu kala itu. Harusnya aku tak perlu jauh-jauh menelusuri jalan dari Villa-ku untuk menjadikanmu temanku, harusnya aku tak sebodoh ini sehingga membiarkan diriku hanyut dan semakin mencintaimu.”
Mataku berkunang-kunang. Entah apa saja yang kudengar barusan. Semuanya terasa berat untuk otakku dan aku tak sanggup lagi mendengarnya. Kurasakan sesuatu yang hangat menetes di punggung tanganku. Cepat-cepat kuseka air mata ini agar kamu tak menyadarinya. Namun secepat itu kamu menyambar tanganku dan meraihnya.
Iya. Ternyata kita sudah sama-sama saling jatuh cinta. Bahkan dengan sangat dalam.
“Lalu apa artinya aku selama ini, Vi? Untuk apa kau memberikanku seikat tawa
jika harus meruntuhkan ratusan air mataku?”
“Bukan itu maksudku, Ra. Aku mohon mengertilah. Ini semua diluar dugaanku. Aku mengira kita hanya akan bahagia menjadi seorang sahabat. Sahabat singkat. Namun semuanya berubah. Perasaanku menjadi semakin liar, Ra. Aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku mencintaimu dalam waktu sesingkat ini.”
Kuberanikan diri untuk menatapmu, disaat yang sama kamu sedang menatapku dalam-dalam. Mata itu, mata yang selalu menyipit jika sedang tertawa. Mengapa mata ini menjadi terlihat begitu menyayat hati?
“Pergilah, Vi. Tidak semestinya kamu disini. Calon istrimu sedang repot mengurus pesta kalian dan kamu sedang duduk dengan wanita lain. Hina.”
“Akira....”
“Sudah kumaafkan semuanya, Vi. Tolong pergi sebelum aku menjadi semakin berat untuk melepaskanmu.”
“Aku antar kamu ke hotel, lalu aku tidak akan pernah menemuimu lagi.”
Semuanya terasa gamblang bagiku untuk mencoba mencerna semuanya. Air mataku menderas tanpa bisa kubendung lagi. Dan aku memilih pergi, sebelum semua tentangmu menjadi semakin membabi buta dalam pikiranku.

Rabu, November 2013. 02.12 WIB.
Perih sebenarnya, saat menyadari bahwa ternyata kita sudah berbeda. Waktu memang telah membuktikan keperkasaannya dengan memutar balik keadaaan. Aku disini, bersama sekelumit kegiatan yang aku harap bisa memudarkan kenangan saat masih bersamamu. Dan kau, di ufuk sana bersama wanitamu yang dulu belum pernah kudengar namanya.
Waktu memang telah menang. Beberapa waktu lalu dibuatnya kau begitu mencintaiku. Sekarang? Tak perlulah aku tuliskan lagi. Kau pasti sudah bisa menerka apa yang ada di fikiranku.
Berusaha tak peduli adalah caraku berlari darimu. Aku tak ingin semakin membencimu. Maka dari itu aku menjauh sejauh-jauhnya darimu. Mencoba bertindak tegas dengan menyakinkan diriku untuk bisa hidup tanpa hadirmu. Namun sekali lagi, semakin aku mencoba lupa denganmu, disaat yang sama sesuatu menyeruak dalam hatiku. Menuntutku untuk membuka lagi kepingan gambar diam yang tidak-akan-pernah ku hapus. Memandangnya di sepertiga malamku, menyeka air mata di sepertiga malamku, dan mendoakanmu disepertiga malamku.
Kisah ini memang tak pernah menjadi kisah yang kuharapkan. Kita tak berakhir dalam suatu ikatan penyatuan. Tapi setidaknya, aku bahagia. Karena kita pernah terpaut dalam satu kisah yang masih terlalu abu-abu untuk kita pahami. Terima kasih, Tuan. karena menjadikanku wanita yang lebih dekat dengan langit, yang lebih menghargai sebagai lampu malam daripada mengindahkannya seperti yang biasa kulakukan.
Mengertilah, Sayang. Aku masih bahagia karena aku pernah menjadi wanita dalam senjamu.
Untukmu, pria yang tak pernah mengutuk kegelapan.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with www.thebaybali.com & Get discovered!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

bulan, dan ibu jari.

Dulu, aku selalu mengutuk jarak. Karena jarak selalu mengingatkanku akan perasaan semu yang berujung siksa.

Tapi sesuatu merubahku. semuanya sudah berubah semenjak kau mengajarkanku bagaimana cara mencintai bulan. Sesuatu yang mungkin tak lagi kau ingat.
Satu menit di kala itu. Saat kau menuntunku bagaimana melihat bulan dalam lensamu. Memandang bulan dari sisi lain.
Dan pada menit berikutnya, aku mencintaimu. Sekaligus bulan.
Seketika, aku mulai mengerti sebuah filosofi sederhana. Mungkin semua orang tau bahwa dimana pun kita berada kita akan melihat satu bulan yang sama. Namun satu yang baru kupahami, bulan tak akan pernah bisa menjadi lebih besar dari ibu jari kita. Sederhana memang. Tapi maknanya?
Ya, Sayang. Karena ternyata kita tak pernah jauh. Jarak beribu mil pun tak akan merubah bulan dan ibu jari kita. Itu artinya, bulanku sama dengan bulanmu. Selalu begitu dan tak akan berubah.
Terima kasih, karena kau sudah rela menjadi bulan yang selalu ingin kugenggam dan dengan menyipitkan mata sebelah kananku.
Dan malam ini, bulan tsabit melambangkan lekung senyummu untukku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS