“When there is love, you can live
even without happiness.” - Dostoevsky, Notes From Underground ( 9
Summer 10 Autumn ) –
Aku sungguh benci padamu. Sejak kau
hadir kau selalu menuntun langkah serong hatiku. Kau basuh dahaga
jiwaku dengan senyum sisimu. Kau sinari gelap nafasku dengan aroma
suci jiwamu. Kau datang tanpa permisi, merongsok paksa dan
meruntuhkan tahta hatiku hanya dengan kesederhanaanmu.. Aku tak
percaya, kau memainkan alunan puisi sehingga aku tak sadarkan apapun
lagi. Namun seketika kau merubah wujudmu. Entah bagaimana kau pergi
tanpa menoleh sekalipun. Apakah kau mengirimkan puisimu kepada
ratusan kaum hawa? Lalu mengapa aku tetap mengira bahwa kau berbeda?
Mengapa kau selalu pergi dan kembali dengan syair yang tak pernah
bisa ku tolak?
Aku benci. Sungguh aku benci padamu.
Semuanya berawal hari Rabu bulan lalu.
Saat aku memandang keindahan cakrawala di negeriku sendiri, Pandawa
beach. Pantai mungil yang belum banyak dinikmati wisatawan ini cukup
memanjakan bola mataku sedari tadi. Menggiring korneaku untuk
menulusuri ombak-ombak kecil hingga lenyap terhapus angin. Hingga
kemudian, kamu membangunkan lamunanku.
“Excuse me, boleh minta tolong
fotokan saya?”
Seketika, keindahan ombak yang baru
saja kukagumi mendadak lenyap, terganti oleh senyum anak adam di
sebelahku. Kamu.Disusul beberapa detik kemudian, akal sehatku mulai
kembali menguasai medan. Kuturuti permintaanmu, disusul kemudian
ucapan terima kasih dan lemparan senyummu. Senyum itu lagi.
“Pecinta laut? Isn’t you?”
Katamu, sambil menyiapkan posisi untuk duduk tepat disebelahku.
“Bagaimana anda tau?” Sergahku,
mungkin sedikit kurang nyaman dengan sikapmu yang sok kenal.
“Terlihat dari bagaimana caramu
menghajar habis-habisan laut itu dengan bola matamu. Kamu terpatung
hingga tak sadar aku sudah mengambil belasan foto dirimu, dan waw..
kamu hampir tak bergerak.”
Apa-apaan lelaki ini. dia mengambil foto diriku tanpa meminta izin dariku?
Apa-apaan lelaki ini. dia mengambil foto diriku tanpa meminta izin dariku?
“Maaf, untuk apa anda...”
“Okay. Pertama-tama maaf karena aku
mengambil foto ini tanpa izin darimu. Tapi aku tidak bermaksud
apa-apa, hanya iseng. Dan kedua, maaf karena menganggu konsentrasimu
memandang laut. By the way, Vicky.” Kubiarkan tangan ini
menggantung di udara sejenak, lalu kuraih dengan ogah-ogahan.
“Akira.” Jawabku singkat. Berharap
kamu pergi dan tak lagi mengangguku menikmati panorama pantai ini.
“Asli sini, turis, atau ada urusan
bisnis?”
Sepertinya aku mulai enggan dengan
pembicaraan mendetail seperti ini. Serasa diintimidasi.
“Traveling aja, mumpung ada waktu
luang.”
Kamu tersenyum sekali lagi, seperti
hendak mengambil ancang-ancang untuk bangkit dari tempat duduknya.
“Okay, Akira. Maaf jika aku
menganggu. Hari sudah hampir senja, jalanan menuju arah kota sangat
panjang dan berliku. Dan pastinya tidak ada lampu jalan karena ini
merupakan daerah terpencil. Hati-hati, Akira. Bahaya cewek jalan
sendirian. Mau bareng?”
“Terima kasih, saya bisa pulang
sendiri. Duluan aja.” Sepertinya pria ini berlagak manis di
depanku. Ah, dasar lelaki.
Kamu berpamitan dan meneruskan
langkahmu. Sedangkan aku masih berdiam di tempatku duduk, melanjutkan
lamunan dan khayalan kecil yang sedari tadi kubuat sebelum terputus
oleh kehadiranmu.
Siapa tadi namanya, Vicky. Iya iya,
Vicky. Sounds good.
Sepertinya aku harus meninggalkan
pantai ini dan kembali ke villa sebelum gelap menghadangku di tengah
jalan. Benar katamu, untuk sampai pada pantai Pandawa ini aku harus
melewati sebuah desa. Kalau tidak salah dengar, orang menyebutnya
desa Kutuh. Desa Kutuh ini memang masih sangat terpencil dan jauh
dari jangkauan pemerintah.Memang tak begitu banyak wisatawan yang mau
bersusah payah membelah bukit kapur untuk menikmati panorama pantai
disini. Mereka lebih memilih memanjakan diri di pantai-pantai Nusa
Dua atau bahkan Kuta yang sudah tumpah ruah oleh wisatawan domestik
atau bahkan mancanegara.
20.11 WITA
Aku sudah sampai pada tujuanku. Hotel
minimalis yang terletak di daerah Nusa Dua ini terlihat cukup mewah
bagiku. Padahal sebelumnya aku sudah berbicara kepada Papa agar tak
ikut campur dalam liburanku kali ini. Aku tidak terlalu menyukai
kemewahan, lebih baik aku tidur di Guest House biasa tapi aku bisa
bebas pergi kemanapun dan pulang jam berapapun aku mau. Tidak seperti
sekarang. Papa hanya akan mengizinkanku pergi jika aku mau menginap
di milik mantan rekan kerja sekaligus sahabat baik beliau yang
kebetulan memiliki saham di hotel yang sedang kuinapi ini.
“Setidaknya, akan ada yang
mengawasimu sehingga uban di rambut Papa tak perlu bertambah banyak
karena terus menerus mengkhawatirkanmu.” Begitulah katanya.
Hotel Grand Whiz ini cukup indah walau
harganya tergolong standart jika dibandingkan dengan hotel berbintang
lainnya di Bali. Hotel ini menyediakan akses langsung ke pantai di
Nusa Dua yang berjarak hanya 3 menit jalan kaki dari hotel.
Setidaknya inilah nilai plus yang menjadi pertimbanganku saat Papa
menawarkan hotel ini padaku.
Tak lama kemudian bel kamarku berbunyi.
“Selamat malam Miss Akira, ada yang
menunggu anda di lobi utama.” Kata pemuda ini santun. Setelah aku
berterima kasih, ia berpamit dan pergi dengan secangkir kopi yang
sudah habis setelah kupesan tadi sore.
Aku sudah sampai di lobi utama. Tak ada
tanda-tanda orang yang kukenal sedang menungguku. Apakah pemuda itu
berbohong? Tapi untuk apa?
“Hai, Akira.” Sambut seseorang dari
balik punggungku.
“Eh, Anda? Vicky? Untuk apa anda
kemari?” Sergahku terkaget. Untuk apa pria ini ada disini?
“Masih ingat kamu rupanya. Maaf waktu
itu aku ikutin kamu, jadi aku tau kalau kamu tinggal di hotel ini.”
Belum sempat aku menjawab, kamu
melanjutkan penjelasannya. “Aku melihat kamu di pantai seorang
diri, sepertinya kamu bukan sedang ikut tour atau sejenisnya. Dan
boleh saya menebak? Kamu tidak mengenal siapapun disini. Am I right?”
“Iya, lalu apa hubungannya dengan
kehadiran anda kemari?”
“Sepertinya kita senasib. Sama-sama
holiday tapi tak memiliki teman disini. Hanya ingin berteman, dan
mungkin kita bisa sharing pengetahuan tentang pantai. Aku juga
pecinta laut. Keberatan?”
Aku terperangah mendengar jawabanmu.
Sepertinya kamu benar-benar tipe yang tak suka basa basi. Sedikit
ragu memang, tapi tak ada tampang horor dalam tampangmu. Wajahmu
cukup rupawan, dihiasi mata coklat dan bulu mata lentik yang hampir
menandingi bulu mata palsu milik wanita-wanita metropolitan.
“Oh, Okay. Nggak keberatan. Tapi
kenapa harus aku?” Entah kenapa jawaban ini muncul begitu saja.
“Well, thank you. Kamu sudah tau
jawabannya, karena kita sama-sama pengagum pantai, laut, dan ombak.”
Ia tersenyum tulus. “Mau dinner sekarang? Aku yang traktir deh.
Anggep aja hadiah perkenalan.”
Aku ragu untuk menjawab. Apa
laki-laki ini benar-benar baik?
“Ayolah, jangan menolakku. Aku sudah
datang dari jauh dan capek-capek kesini. Kan tadi kamu..”
“iya iya iya. Kita berangkat
sekarang?”
Rabu, Oktober 2013.
Sudah dua minggu berlalu sejak
pertemuanku denganmu malam itu, kehadiranmu semakin mengusik hati dan
pikiranku. Aku begitu memuja kesederhanaanmu dan kejeniusanmu. Seolah
semua sudah tertata rapi dalam kotak kemaskulinan. Semuanya semakin
membuatku begitu memaknai setiap jengkal hadirmu, menuntutmu untuk
tetap disini. Dan ya, membalas cintaku.
Sejauh ini, memang tak pernah ada
tanda-tanda bahwa kau memiliki perasaan yang lebih terhadapku. Kamu
tak pernah menggandeng tanganku. Perhatianmu hanya sebatas
memandangku dalam-dalam saat aku aku terlarut dalam cerita yang
menggebu. Mungkin sesekali saja kamu menyentuh siku-ku saat kita
hendak menyeberang. Seperti memberi isyarat ‘tetaplah denganku.’
Entah kenapa jika sedang berada dalam
posisi jauh seperti ini, aku merasa sangat merindukanmu. Aku begitu
merindukan saat kau menunjukkan hasil jepretanmu kepadaku. Bulan
purnama. Sesuatu yang belum pernah kukagumi sedemikian detail. Kau
mengajarkanku cara melihat bulan dalam lensamu, memandang bulan dalam
sisi lain. Mencintai bulan dalam Eingengrau.
Masih 15 menit lagi, pikirku.
Sebentar lagi kau akan menjemputku dan kembali melanjutkan traveling
kita menuju pantai pantai Uluwatu. Kita sudah mengunjungi beberapa
pantai bersama. Seperti pantai Lovina, Suluban, Uluwatu, Tanjung
benoa, Padang-Padang, Green Bowl, Nusa Dua, dan Padma. Pengetahuanmu
tentang pantai dan lokasi di bali memang tidak bisa kuragukan lagi.
Tapi kau bilang, Padang-Padang dan Uluwatu-lah yang mencuri hatimu.
Kamu menemukan kesunyian disana, satu keadaan yang bisa membuat kita
melihat Eingengrau di malam hari. Kegelapan total. Sesuatu yang kau
sebut dengan semedi singkat untuk menghargai betapa pentingnya
terang.
Belku sudah berbunyi, kuraih ransel dan
D5100 yang sudah full battery karena aku sudah mengerti siapa di
balik pintuku saat ini.
“Hai, sudah siap, Ra?” sambutmu.
Masih dengan senyum setengah sisi yang mirip seperti ratusan foto
bulan tsabit yang selalu kau ambil dalam kamera kesayanganmu.
“Siap dong, makan dulu yuk? Aku belum
makan dari pagi.” Sergahku. Disusul dengan anggukan dan gamitan
tanganmu.
Kupandang jemari yang sedang merapat
diantara jemari-jemariku yang lain. Dan aku tahu, aku siap untuk
bersamamu selama mungkin.
17.56 WITA
Kita sudah berada di lokasi pantai
Uluwatu. Seperti kedatangan kita sebelumnya, pantai ini masih menjadi
salah satu pantai tersunyi dan pantai yang paling kita kagumi. Tak
banyak yang berbeda memang, tapi ombak yang menghantam kaki tebing
inilah yang menarik bagiku. Aku memang bukan pecinta surfing, tapi
gelombang yang dihasilkan dari deru ombak selalu menjadi daya tarik
tersendiri bagiku. Dan disinilah aku menemukannya.
Kamu masih asyik dengan kameramu di
jarak yang cukup jauh denganku. Dan aku, tak usah kau tanya. Aku
lebih memilih memanfaatkan waktu untuk menyaksikan luasnya hamparan
samudera Hindia dan memandang matahari yang sudah separuh terbenam
tepat di depan kornea mataku. Membiarkan lamunanku terhanyut dalam
cahaya dan gelombang yang sibuk menyatu di sana.
Kulihat kamu berjalan ke arahku dengan
raut muka datar yang sulit kumengerti. Tatapan cemas kah itu?
“Ada apa?” tanyaku. Sedikit
khawatir dengan air mukanya yang tak pernah seperti ini.
“Besok udah tanggal dua, dan aku
harus kembali ke Jakarta. Aku tak bisa lebih lama lagi disini
bersamamu, Ra. Ada yang menungguku disana.”
“Iya aku inget. Waktu di villa-mu kan
kamu udah cerita. Emang siapa yang menunggu, Vi? Klien?”
Kamu diam sejenak, memandang matahari
yang tadi kulihat dan kemudian memandangku dalam-dalam.
“Aku akan menikah sepuluh hari lagi,
Ra. Maaf aku nggak cerita dari awal kalau aku sudah memiliki wanita.
Tujuanku ke Bali ini untuk melepas masa kesendirianku dan bersiap
membuka lembaran baru. Sorry aku baru bisa ngomong sekarang.”
Mendadak semuanya serasa terhenti.
Entah apakah ini termasuk detak jantungku atau tidak. Senja masih
terlihat merah, namun kornea mataku sudah menganggap semuanya menjadi
Eingengrau. Hitam pekat.
Kuperbaiki letak dudukku, berharap
sedikit gerakan tubuh dapat membuat semuanya berubah. Membuatnya
mencabut perkatannya barusan.
“Aku salah, Ra. Seharusnya aku tidak
membuntutimu sampai ke hotelmu kala itu. Harusnya aku tak perlu
jauh-jauh menelusuri jalan dari Villa-ku untuk menjadikanmu temanku,
harusnya aku tak sebodoh ini sehingga membiarkan diriku hanyut dan
semakin mencintaimu.”
Mataku berkunang-kunang. Entah apa saja
yang kudengar barusan. Semuanya terasa berat untuk otakku dan aku tak
sanggup lagi mendengarnya. Kurasakan sesuatu yang hangat menetes di
punggung tanganku. Cepat-cepat kuseka air mata ini agar kamu tak
menyadarinya. Namun secepat itu kamu menyambar tanganku dan
meraihnya.
Iya. Ternyata kita sudah sama-sama
saling jatuh cinta. Bahkan dengan sangat dalam.
“Lalu apa artinya aku selama ini, Vi?
Untuk apa kau memberikanku seikat tawa
jika harus meruntuhkan ratusan air
mataku?”
“Bukan itu maksudku, Ra. Aku mohon
mengertilah. Ini semua diluar dugaanku. Aku mengira kita hanya akan
bahagia menjadi seorang sahabat. Sahabat singkat. Namun semuanya
berubah. Perasaanku menjadi semakin liar, Ra. Aku tidak bisa
membohongi perasaanku bahwa aku mencintaimu dalam waktu sesingkat
ini.”
Kuberanikan diri untuk menatapmu,
disaat yang sama kamu sedang menatapku dalam-dalam. Mata itu, mata
yang selalu menyipit jika sedang tertawa. Mengapa mata ini menjadi
terlihat begitu menyayat hati?
“Pergilah, Vi. Tidak semestinya kamu
disini. Calon istrimu sedang repot mengurus pesta kalian dan kamu
sedang duduk dengan wanita lain. Hina.”
“Akira....”
“Sudah kumaafkan semuanya, Vi. Tolong
pergi sebelum aku menjadi semakin berat untuk melepaskanmu.”
“Aku antar kamu ke hotel, lalu aku
tidak akan pernah menemuimu lagi.”
Semuanya terasa gamblang bagiku untuk
mencoba mencerna semuanya. Air mataku menderas tanpa bisa kubendung
lagi. Dan aku memilih pergi, sebelum semua tentangmu menjadi semakin
membabi buta dalam pikiranku.
Rabu, November 2013. 02.12 WIB.
Perih sebenarnya, saat menyadari bahwa
ternyata kita sudah berbeda. Waktu memang telah membuktikan
keperkasaannya dengan memutar balik keadaaan. Aku disini, bersama
sekelumit kegiatan yang aku harap bisa memudarkan kenangan saat masih
bersamamu. Dan kau, di ufuk sana bersama wanitamu yang dulu belum
pernah kudengar namanya.
Waktu memang telah menang. Beberapa
waktu lalu dibuatnya kau begitu mencintaiku. Sekarang? Tak perlulah
aku tuliskan lagi. Kau pasti sudah bisa menerka apa yang ada di
fikiranku.
Berusaha tak peduli adalah caraku
berlari darimu. Aku tak ingin semakin membencimu. Maka dari itu aku
menjauh sejauh-jauhnya darimu. Mencoba bertindak tegas dengan
menyakinkan diriku untuk bisa hidup tanpa hadirmu. Namun sekali lagi,
semakin aku mencoba lupa denganmu, disaat yang sama sesuatu menyeruak
dalam hatiku. Menuntutku untuk membuka lagi kepingan gambar diam yang
tidak-akan-pernah ku hapus. Memandangnya di sepertiga malamku,
menyeka air mata di sepertiga malamku, dan mendoakanmu disepertiga
malamku.
Kisah ini memang tak pernah menjadi
kisah yang kuharapkan. Kita tak berakhir dalam suatu ikatan
penyatuan. Tapi setidaknya, aku bahagia. Karena kita pernah terpaut
dalam satu kisah yang masih terlalu abu-abu untuk kita pahami. Terima
kasih, Tuan. karena menjadikanku wanita yang lebih dekat dengan
langit, yang lebih menghargai sebagai lampu malam daripada
mengindahkannya seperti yang biasa kulakukan.
Mengertilah, Sayang. Aku masih bahagia
karena aku pernah menjadi wanita dalam senjamu.
Untukmu, pria yang tak pernah
mengutuk kegelapan.
Blog post ini dibuat dalam rangka
mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness
with www.thebaybali.com &
Get discovered!






