RSS

Halaman

hujan punya cerita tentang kita

Rintik ini melemparkan otakku untuk me-rewind ulang kejadian beberapa waktu silam. Saat dengan gagah kau memberikan jaket merah bata-mu untuk menghangatkan tubuhku. Jaket yang selalu aku suka, karena membuat kulitmu tampak lebih putih dari biasanya. Kau sandarkan jaket itu di bahuku, berharap suara gemeratak di gigiku berkurang. Dingin ini membekukan kita, tapi kau terlihat hangat tanpa jaketmu. Hanya terlihat. Aku tau kau hanya sok kuat agar aku tak sungkan memakainya.
“Kita pulang sekarang? Yakin nggak kenapa-napa main hujan lagi?” Tanyamu sekali lagi. Masih dengan nada khawatir.
“It’s okay. Bukankah ini bukan pertama kali kita menantang hujan?” tantangku. Aku tau kau tak suka dengan hobi main hujanku ini. tapi di situasi seperti ini aku bisa menjadikan keadaan sebagai kambing hitam. : ))
Sepuluh menit  sudah berlalu. Aku masih duduk di belakang boncenganmu. Membisu. Antara kedinginan dan bahagia karena berada di situasi yang paling kusenangi. Iya, aku sangat mencintai hujan dan aku sedang berada ditengah derasnya hujan bersamamu. Situasi mana yang lebih baik dari ini?
Mungkin aku kesulitan melihat tampangmu. Tubuhmu dibalut dengan jas hujan dan mukamu tertutup helm. Tak apa, setidaknya aku masih merasakan tangan kirimu tepat dipunggung tangan kananku. Seperti berusaha menahan dingin agar tak masuk dalam tubuhku.
“Kamu dingin?” tanyaku setengah berteriak. Berusaha mengalahkan suara ribuan bulir air yang mengeroyok kami.
 “Nggak, bajuku cukup tebal kok. Rapatkan jaketnya, sembunyi di belakang punggungku agar tak terkena air hujan.”
“Aku tidak akan melewatkan hujan seindah ini. jangan khawatirkan apapun.”
Kulihat kau melirikku dari balik spion motormu. Aku mengacungkan jempol dan kau tersenyum lebar, memamerkan rentetan gigimu sebentar.
“Udah sampai, sayang. Cepet mandi ya. Jangan sampai sakit lagi.” Pesanmu, kali ini dengan senyum yang berbeda.
Seperti tidak ingin melepaskanmu, mataku masih tidak ingin beralih dari wajahmu. Wajah bijaksana yang menghangatkanku di udara sedingin ini sekalipun. Rasanya ingin menyuruhmu untuk lebih lama disini, tapi telapak tanganmu sudah membiru. Ditusuk oleh dinginnya hujan malam ini.
“I love you, Ratu hujan. Terima kasih, karena tadi adalah hujan terbaik dalam hidupku.” katamu lagi. Pertama kalinya kamu bilang 'i love you' secara langsung dan mendadak. Entah kenapa sejak tadi aku tak bisa menjawabmu barang satu katapun. Hanya memandangmu yang sudah bersiap untuk pergi dan menantang hujan kembali, tanpaku di belakangmu.
“Hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai ya.” Dan kita berpisah. Aku harus puas dengan hanya memandang punggungmu sampai cahaya benar-benar meredupkan pandanganku. Sepertinya aku harus segera masuk ke dalam rumah. Menunaikan pesanmu dan menunggu kabar darimu.
Satu jam.
Kulihat redlight-ku menyala. Benar saja, contact name bernama “Everything” sudah berkedip-kedip. Dan seketika...
Aku tak ingat jelas bagaimana aku tiba di rumah sakit. Berada tepat disisi kananmu yang tenang, memejamkan mata. kau masih sama seperti saat kita berada di warung beberapa jam lalu. Yang berbeda, hanya derai cairan berwarna merah di pelipis sebelah kananmu. Aku yakin itu bukan air hujan, air hujan tidak akan berubah warna dan membuatmu tidak menyadari kehadiranku seperti ini.
Kupanggil namamu sekali, dua kali, tiga kali. Kau tak menghiraukanku. Kusentuh tangan kirimu yang dua jam lalu masih menggenggam tanganku, berharap kau merasakan hadirku. Namun lagi-lagi kau tidak menghiraukanku. Entah apa maumu. Kau membuat semua orang disini menangis dan melemparkan tatapan iba kepada kita berdua.
Dan sekarang aku disini, Sayang. Di samping sebuah nisan bertuliskan namamu dan dibawah deru hujan lagi. Tangisku sudah tidak meraung-raung seperti kemarin. Semua sudah kuikhlaskan. Aku tak akan menyalahkan hujan lagi karena merebutmu dariku. Aku tak meronta-ronta lagi dan memohon supaya kau membuka mata dan tersenyum kepadaku.
Disanalah kamu sekarang, Lelaki Malaikat Hujan. Di dalam tanah sebagai singgasana terakhirmu. Terima kasih, karena membuat hujan memliki cerita lebih tentang kita. Cerita singkat tentang Malaikat dan Ratu Hujan.

Cerita ini untukmu,  sang pemilik senyum seindah pelangi setelah hujan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NAIF #part1


Diantara dinginnya malamku, lagi-lagi aku memikirkanmu. Tentang kamu yang sudah-sama-sekali tidak ingin tahu tentang kabarku. Entah apa yang membuatmu sibuk disana. Entah wanita, entah harta, entah tahta. Tak bermaksud ikut campur, hanya berusaha menerka ingin kau bawa kemana hubungan ini? Apa kau berencana menelantarkanku seperti yang kau buat beberapa tahun lalu disaat kenaifan masih merajai fikiranku?
Cukup absurd. Mengingat karakter dirimu yang tak akan mudah dirubah oleh sekedar lekangan waktu.
Ternyata dari banyaknya pengabaian yang kau berikan, aku masih memaafkanmu. Dari sekian juta luka yang kau tusukkan, aku masih menunggumu. Entah harus dimaafkan atau tidak, aku masih mengharapkanmu.
Dulu, butuh waktu lama untuk berdiam diri agar lukaku mengering. Menutup hati dari apapun yang berusaha menggantikan posisimu disini. Dalam hati sini. Iya, memang betul. Hingga kini pun belum ada yang menempati singgasanamu dihatiku. Hanya kamu.
Naif sekali, bukan? Mengingat kau-lah yang selalu melebarkan luka di dalam sini. Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku sudah memaafkanmu, meninggalkan kenangan kita ratusan kilometer di belakangku. Senyumku sudah mengembang, karena sesedih-sedihnya aku sekarang adalah sebahagia-bahagianya aku karena ikhlas melepaskanmu.
aku tidak menuntut apapun, hanya kembalikan senyumku seperti dulu sebelum aku mencintaimu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS