Diantara dinginnya malamku, lagi-lagi aku memikirkanmu.
Tentang kamu yang sudah-sama-sekali tidak ingin tahu tentang kabarku. Entah apa
yang membuatmu sibuk disana. Entah wanita, entah harta, entah tahta. Tak
bermaksud ikut campur, hanya berusaha menerka ingin kau bawa kemana hubungan
ini? Apa kau berencana menelantarkanku seperti yang kau buat beberapa tahun
lalu disaat kenaifan masih merajai fikiranku?
Cukup absurd. Mengingat karakter dirimu yang tak akan mudah
dirubah oleh sekedar lekangan waktu.
Ternyata dari banyaknya pengabaian yang kau berikan, aku
masih memaafkanmu. Dari sekian juta luka yang kau tusukkan, aku masih
menunggumu. Entah harus dimaafkan atau tidak, aku masih mengharapkanmu.
Dulu, butuh waktu lama untuk berdiam diri agar lukaku mengering.
Menutup hati dari apapun yang berusaha menggantikan posisimu disini. Dalam hati
sini. Iya, memang betul. Hingga kini pun belum ada yang menempati singgasanamu
dihatiku. Hanya kamu.
Naif sekali, bukan? Mengingat kau-lah yang selalu melebarkan
luka di dalam sini. Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku sudah memaafkanmu,
meninggalkan kenangan kita ratusan kilometer di belakangku. Senyumku sudah
mengembang, karena sesedih-sedihnya aku sekarang adalah sebahagia-bahagianya
aku karena ikhlas melepaskanmu.
aku tidak menuntut apapun, hanya kembalikan senyumku seperti
dulu sebelum aku mencintaimu.





