RSS

Halaman

NAIF #part1


Diantara dinginnya malamku, lagi-lagi aku memikirkanmu. Tentang kamu yang sudah-sama-sekali tidak ingin tahu tentang kabarku. Entah apa yang membuatmu sibuk disana. Entah wanita, entah harta, entah tahta. Tak bermaksud ikut campur, hanya berusaha menerka ingin kau bawa kemana hubungan ini? Apa kau berencana menelantarkanku seperti yang kau buat beberapa tahun lalu disaat kenaifan masih merajai fikiranku?
Cukup absurd. Mengingat karakter dirimu yang tak akan mudah dirubah oleh sekedar lekangan waktu.
Ternyata dari banyaknya pengabaian yang kau berikan, aku masih memaafkanmu. Dari sekian juta luka yang kau tusukkan, aku masih menunggumu. Entah harus dimaafkan atau tidak, aku masih mengharapkanmu.
Dulu, butuh waktu lama untuk berdiam diri agar lukaku mengering. Menutup hati dari apapun yang berusaha menggantikan posisimu disini. Dalam hati sini. Iya, memang betul. Hingga kini pun belum ada yang menempati singgasanamu dihatiku. Hanya kamu.
Naif sekali, bukan? Mengingat kau-lah yang selalu melebarkan luka di dalam sini. Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku sudah memaafkanmu, meninggalkan kenangan kita ratusan kilometer di belakangku. Senyumku sudah mengembang, karena sesedih-sedihnya aku sekarang adalah sebahagia-bahagianya aku karena ikhlas melepaskanmu.
aku tidak menuntut apapun, hanya kembalikan senyumku seperti dulu sebelum aku mencintaimu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS