Rintik ini melemparkan otakku untuk me-rewind ulang kejadian
beberapa waktu silam. Saat dengan gagah kau memberikan jaket merah bata-mu
untuk menghangatkan tubuhku. Jaket yang selalu aku suka, karena membuat kulitmu
tampak lebih putih dari biasanya. Kau sandarkan jaket itu di bahuku, berharap
suara gemeratak di gigiku berkurang. Dingin ini membekukan kita, tapi kau
terlihat hangat tanpa jaketmu. Hanya terlihat. Aku tau kau hanya sok kuat agar
aku tak sungkan memakainya.
“Kita pulang sekarang? Yakin nggak kenapa-napa main hujan
lagi?” Tanyamu sekali lagi. Masih dengan nada khawatir.
“It’s okay. Bukankah ini bukan pertama kali kita menantang
hujan?” tantangku. Aku tau kau tak suka dengan hobi main hujanku ini. tapi di
situasi seperti ini aku bisa menjadikan keadaan sebagai kambing hitam. : ))
Sepuluh menit sudah
berlalu. Aku masih duduk di belakang boncenganmu. Membisu. Antara kedinginan dan
bahagia karena berada di situasi yang paling kusenangi. Iya, aku sangat
mencintai hujan dan aku sedang berada ditengah derasnya hujan bersamamu. Situasi
mana yang lebih baik dari ini?
Mungkin aku kesulitan melihat tampangmu. Tubuhmu dibalut
dengan jas hujan dan mukamu tertutup helm. Tak apa, setidaknya aku masih
merasakan tangan kirimu tepat dipunggung tangan kananku. Seperti berusaha
menahan dingin agar tak masuk dalam tubuhku.
“Kamu dingin?” tanyaku setengah berteriak. Berusaha mengalahkan
suara ribuan bulir air yang mengeroyok kami.
“Nggak, bajuku cukup
tebal kok. Rapatkan jaketnya, sembunyi di belakang punggungku agar tak
terkena air hujan.”
“Aku tidak akan melewatkan hujan seindah ini. jangan
khawatirkan apapun.”
Kulihat kau melirikku dari balik spion motormu. Aku mengacungkan
jempol dan kau tersenyum lebar, memamerkan rentetan gigimu sebentar.
“Udah sampai, sayang. Cepet mandi ya. Jangan sampai sakit
lagi.” Pesanmu, kali ini dengan senyum yang berbeda.
Seperti tidak ingin melepaskanmu, mataku masih tidak ingin
beralih dari wajahmu. Wajah bijaksana yang menghangatkanku di udara sedingin
ini sekalipun. Rasanya ingin menyuruhmu untuk lebih lama disini, tapi telapak
tanganmu sudah membiru. Ditusuk oleh dinginnya hujan malam ini.
“I love you, Ratu hujan. Terima kasih, karena tadi adalah
hujan terbaik dalam hidupku.” katamu lagi. Pertama kalinya kamu bilang 'i love
you' secara langsung dan mendadak. Entah kenapa sejak tadi aku tak bisa menjawabmu
barang satu katapun. Hanya memandangmu yang sudah bersiap untuk pergi dan
menantang hujan kembali, tanpaku di belakangmu.
“Hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai ya.” Dan kita berpisah.
Aku harus puas dengan hanya memandang punggungmu sampai cahaya benar-benar
meredupkan pandanganku. Sepertinya aku harus segera masuk ke dalam rumah. Menunaikan
pesanmu dan menunggu kabar darimu.
Satu jam.
Kulihat redlight-ku menyala. Benar saja, contact name
bernama “Everything” sudah berkedip-kedip. Dan seketika...
Aku tak ingat jelas bagaimana aku tiba di rumah sakit. Berada
tepat disisi kananmu yang tenang, memejamkan mata. kau masih sama seperti saat
kita berada di warung beberapa jam lalu. Yang berbeda, hanya derai cairan
berwarna merah di pelipis sebelah kananmu. Aku yakin itu bukan air hujan, air
hujan tidak akan berubah warna dan membuatmu tidak menyadari kehadiranku
seperti ini.
Kupanggil namamu sekali, dua kali, tiga kali. Kau tak
menghiraukanku. Kusentuh tangan kirimu yang dua jam lalu masih menggenggam
tanganku, berharap kau merasakan hadirku. Namun lagi-lagi kau tidak menghiraukanku. Entah
apa maumu. Kau membuat semua orang disini menangis dan melemparkan tatapan iba kepada kita berdua.
Dan sekarang aku disini, Sayang. Di samping sebuah nisan
bertuliskan namamu dan dibawah deru hujan lagi. Tangisku sudah tidak
meraung-raung seperti kemarin. Semua sudah kuikhlaskan. Aku tak akan
menyalahkan hujan lagi karena merebutmu dariku. Aku tak meronta-ronta lagi dan
memohon supaya kau membuka mata dan tersenyum kepadaku.
Disanalah kamu sekarang, Lelaki Malaikat Hujan. Di dalam tanah
sebagai singgasana terakhirmu. Terima kasih, karena membuat hujan memliki
cerita lebih tentang kita. Cerita singkat tentang Malaikat dan Ratu Hujan.
Cerita ini untukmu, sang pemilik senyum seindah pelangi setelah hujan.





